
Jumat hingga Sabtu (4/7) kemarin. Itu menyusul empat inovasi temuan pelajar anak SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo yang diadu di ajang tersebut.
Diantaranya adalah robot Click Home,--sebuah robot yang berfungsi untuk menjaga keamanan rumah atau perkantoran. Lalu Web 2000, alat monitoring penunjuk lokasi dalam suatu peta wilayah. Sistem Perpus, sebuah program untuk kelancaran pelayanan diperpustakaan menggunakan Smart Card dan Web Based Mobile Tracking atau alat pelacak kendaraan dengan global sistem.
Namun di antara karya itu, yang paling dijagokan adalah robot Click Home. Menurut Edwin, anggota tim robot SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, yang membidangi kelahiran robot itu mengatakan Click Home dijagokan karena sangat fungsional dan komponennya relatif murah.
Sehingga robot itu sangat berpeluang untuk diproduksi massal karena harganya terjangkau masyarakat dari kalangan kelas menengah ke atas. “Komponen utamanya adalah handphone (HP). Karena dalam kondisi bahaya robot ini dirancang dapat mengontak pemilik rumah yang dijaganya melalui SMS,” beber Edwin. “Apalagi harga HP sekarang sudah murah,” tambahnya.
Edwin melanjutkan, komponen robot yang dirasa cukup mahal adalah kamera pengintainya. “Tapi, bisa juga membeli yang murah sesuai dengan kemampuan, nanti tinggal melakukan modifikasi saja,” katanya.
Drs Hidayatullah, Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo menegaskan pihaknya sudah menarget anak didiknya agar meraih juara pertama. Sebab, juara pertama adalah tiket emas untuk lomba serupa di Australia pada Agustus mendatang. ”Itu adalah obsesi kami. Kami ingin bisa mengikuti ajang Internasional APICTA 2009 pada Agustus mendatang di Australia,” tegas Hidayatullah.
Meraih juara pertama dalam ajang nasional itu, menurut Hidayatullah tidak terlalu sulit. Sebab kriteria utama penilaian adalah inovasi terbaru. Sementara empat kreasi teknologi yang ditampilkan anak-anak SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo itu, seluruhnya merupakan inovasi paling baru yang belum pernah dibuat. *